π¨ BPR-BPRS: Transformasi atau Punah. Pilih.
Oleh : H. Dadi Sumarsana, S.Adne., SH, MM Ketua Perbarindo DPD Jateng
Prolog: Rangkuman Singkat
Artikel di atas menyajikan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS (RP2B) 2024β2027 yang dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Roadmap ini mengusung visi menjadikan BPR dan BPRS sebagai bank yang berintegritas, tangguh, dan kontributif bagi UMKM serta perekonomian lokal. Agenda ini diwujudkan melalui empat pilar utama: (1) Penguatan Struktur dan Daya Saing, (2) Akselerasi Digitalisasi, (3) Penguatan Peran terhadap Wilayah, dan (4) Penguatan Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan. Tiga quick wins yang menjadi prioritas adalah pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) Rp6 miliar, konsolidasi melalui Single Presence Policy (SPP), dan penguatan tata kelola. Industri BPR-BPRS saat ini menunjukkan kinerja positif dengan aset mencapai Rp236,69 triliun per Maret 2026, menjadikan momentum ini sangat tepat untuk transformasi menuju keberlanjutan dan daya saing yang lebih kuat.
Pesan Inspiratif Ketua
Kepada Seluruh Jajaran Pengurus, Direksi, dan Karyawan BPR serta BPRS
Saudara-saudariku sekalian,
Dalam perjalanan hampir empat dekade, industri BPR dan BPRS telah membuktikan dirinya sebagai tulang punggung perekonomian lokal di seluruh penjuru Nusantara. Kita bukan sekadar lembaga keuangan. Kita adalah jembatan harapan bagi pedagang kecil di pasar tradisional, penopang mimpi bagi pengusaha mikro di pelosok desa, dan sahabat setia bagi masyarakat yang belum terjamah layanan perbankan besar.
Namun, saat ini kita berdiri di persimpangan sejarah. OJK telah meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS 2024β2027 β sebuah peta jalan yang bukan sekadar regulasi, melainkan undangan untuk bangkit dan bertransformasi. Maka izinkan saya menyampaikan beberapa hal yang saya yakini menjadi panggilan jiwa bagi kita semua.
I. Bangkit dari Keterbatasan, Berani Bermimpi Besar
Seringkali kita merasa bahwa sebagai bank lokal, kita terbatas oleh skala, modal, dan teknologi. Tapi lihatlah angkanya: aset industri kita Rp236,69 triliun, kredit tersalurkan Rp176,96 triliun, dan CAR agregat 27,20%. Kita tidak lemah. Kita hanya perlu lebih percaya diri dan lebih terorganisir.
OJK membuka pintu lebar-lebar bagi kita untuk melantai di pasar modal melalui IPO, sesuatu yang dulu terasa mustahil bagi bank seukuran kita. Ini bukan sekadar peluang permodalan β ini adalah pengakuan bahwa BPR dan BPRS layak duduk setara dalam ekosistem keuangan nasional. Jangan biarkan rasa minder menghalangi langkah kita. Jadilah bank yang berani tumbuh, berani berubah, dan berani bermimpi lebih besar.
II. Konsolidasi Bukan Kekalahan, Melainkan Kemenangan Bersama
Kebijakan Single Presence Policy (SPP) sering ditakuti sebagai ancaman. Saya melihatnya sebagai kesempatan emas. Bukan berarti bank Anda akan hilang, tetapi identitas dan nilai-nilai lokal Anda akan diperkuat oleh skala dan sinergi. Bayangkan sebuah BPR dengan kedalaman relasi di kampungnya, bergabung dengan BPR lain yang memiliki infrastruktur teknologi lebih baik. Yang terjadi bukan penghapusan, melainkan kelahiran bank lokal yang lebih tangguh dan lebih mampu berdaya saing.
Kepada para pemilik dan pengurus: lepaskan ego pribadi demi legacy yang lebih besar. Warisan terindah bukanlah nama di papan nama, melainkan dampak nyata yang kita tinggalkan di masyarakat.
III. Digitalisasi adalah Bahasa Cinta Baru untuk Nasabah
Di era ini, nasabah kita bukan lagi hanya membutuhkan “teller yang ramah”. Mereka butuh aplikasi yang tidak error, transfer yang instan, dan layanan yang bisa diakses sambil menggendong anak di rumah. Digitalisasi bukan pilihan β itu adalah komitmen kita untuk tetap relevan.
Tapi ingatlah: teknologi tanpa hati adalah mesin dingin. Yang membedakan BPR/BPRS dari bank besar adalah kehangatan hubungan personal. Maka digitalisasi kita harus menjadi perpanjangan dari kepedulian kita, bukan penggantinya. Gunakan teknologi untuk mendekat, bukan menjauh.
IV. Kembali ke Akar: Kita Adalah Bank untuk UMKM dan Masyarakat Lokal
Jangan pernah lupa mengapa kita ada. BPR dan BPRS lahir bukan untuk bersaing dengan bank umum dalam pembiayaan korporasi raksasa. Kita ada untuk pedagang kaki lima yang butuh modal Rp5 juta, untuk petani yang ingin membeli bibit unggul, untuk ibu rumah tangga yang membuka warung kecil di depan rumah.
Ketika kita fokus pada UMKM dan masyarakat lokal, kita tidak hanya menjalankan bisnis β kita menjadi bagian dari kisah sukses mereka. Setiap kredit macet adalah kesempatan kita untuk belajar lebih dalam mengenal nasabah. Setiap kredit lancar adalah bukti bahwa kepercayaan masih menjadi mata uang paling berharga dalam perbankan.
V. Tata Kelola adalah Cermin Integritas Kita
Penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan pencegahan fraud bukan sekadar kewajiban regulasi. Itu adalah cermin dari siapa kita sebenarnya. Sebuah bank yang sehat adalah bank yang dipercaya. Dan kepercayaan tidak dibeli dengan modal β ia dibangun dengan kejujuran, konsistensi, dan keberanian untuk melakukan yang benar meski sulit.
Kepada seluruh pengurus dan komisaris: kalian adalah penjaga api integritas ini. Jangan biarkan ambisi pertumbuhan mengaburkan prinsip. Bank yang tumbuh dengan fondasi rapuh akan runtuh. Bank yang tumbuh dengan fondasi kuat akan abadi.
Penutup: Masa Depan Ada di Tangan Kita
Saudara-saudariku,
Roadmap OJK ini bukan sekadar dokumen di atas meja. Ia adalah seruan untuk kita semua β pemilik, pengurus, direksi, karyawan, hingga satpam di pintu gerbang β untuk bersama-sama membawa BPR dan BPRS ke level yang lebih mulia.
Industri kita telah bertahan melalui berbagai badai: krisis moneter, pandemi, dan dinamika ekonomi yang tak menentu. Kita masih berdiri. Bukan karena kebetulan, tetapi karena kita memiliki fondasi yang kokoh dan semangat yang tak pernah padam.
Maka marilah kita jadikan tahun-tahun ke depan sebagai momen kebangkitan. Perkuat modal. Peluk digitalisasi. Jaga integritas. Tetap setia pada UMKM. Dan yang terpenting: percayalah bahwa BPR dan BPRS memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun dalam membangun Indonesia dari pinggiran.
“Bank yang kuat bukanlah yang memiliki cabang terbanyak, melainkan yang memiliki dampak terdalam di hati masyarakatnya.”
Mari kita buktikan bahwa BPR dan BPRS bukan hanya bank kecil di sudut jalan. Kita adalah garda terdepan kemandirian ekonomi bangsa.
Salam inspirasi,
Ketua
Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS 2024β2027
