BI
LPS
OJK
HUT BPR/BPRS
BERITA DUKA

    Dari Aset Tak Terjual, Lahir Berkah untuk Umat

    Oleh : H. Dadi Sumarsana, S.Adne., SH, MM – Ketua Perbarindo DPD Jateng


    1. Latar Belakang dan Konteks

    Kondisi terkini menunjukkan BPR-BPRS menghadapi kesulitan likuiditas akibat agunan (AYDA — Aset Yang Diambil Alih) yang sulit dipasarkan. Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia) telah berjuang mendapatkan relaksasi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), yang akhirnya dikabulkan meski dengan skema pengajuan per individu bank, bukan kolektif. Ini memberikan waktu dan ruang bagi BPR-BPRS untuk mengelola aset bermasalahnya.

    2. Paradigma Baru: Dari Profit-Oriented ke Spiritual-Profit Balance

    Pesan ini mengajak pergeseran mindset pemilik/PSP BPR-BPRS:

    • Dari: Fokus semata pada laba dan pertumbuhan bisnis duniawi.
    • Menuju: Keseimbangan antara tujuan bisnis dan nilai spiritual — memandang aset tak terjual bukan sebagai kerugian, melainkan peluang beramal.

    3. Solusi Konkret: Agunan untuk Fasilitas Publik

    Table

    Jenis AgunanFungsi SosialKebutuhan Saat Ini
    Tanah/kavlingMasjid / GerejaTempat ibadah yang terjangkau
    Lahan luasPemakamanKrisis lahan pemakaman di perkotaan
    Tanah terbatasTempat Pembuangan Sampah (TPS)Masalah sanitasi dan lingkungan

    Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, ketersediaan lahan untuk pemakaman dan TPS sudah sangat kritis. Ini menciptakan demand sosial yang bisa dipenuhi oleh BPR-BPRS melalui agunan yang mereka miliki.

    4. Multi-Dimensi Manfaat

    a. Dimensi Spiritual

    • Amal jariyah (pahala yang terus mengalir selama fasilitas tersebut bermanfaat).
    • Memenuhi kewajiban sosial dan keagamaan pemilik/PSP.
    • Menguatkan niat bahwa rezeki datang dari Allah, dan sebagian harus dikembalikan untuk umat.

    b. Dimensi Sosial-Lingkungan

    • Mengatasi masalah nyata masyarakat: tempat ibadah, pemakaman, dan sanitasi.
    • Meningkatkan kualitas hidup warga sekitar.
    • Mengurangi konflik sosial akibat kelangkaan lahan fasilitas umum.

    c. Dimensi Bisnis & Promosi

    • Nama BPR-BPRS tertanam dalam memori publik sebagai “bank yang peduli”.
    • Branding positif yang tidak bisa dibeli dengan biaya iklan.
    • Potensi pengelolaan profesional yang menghasilkan revenue (misal: retribusi pemakaman, pengelolaan TPS berbayar, sewa kios di sekitar masjid).

    d. Dimensi Ekonomi Lokal (UMKM)

    • Sekitar masjid/gereja: kios sembako, toko perlengkapan ibadah, katering.
    • Sekitar pemakaman: toko bunga, jasa pemakaman, parkir.
    • Sekitar TPS: jasa pengangkutan, daur ulang, kompos.
    • Ini menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang menopang masyarakat sekitar.

    5. Implementasi Praktis

    • Tahap 1: Identifikasi agunan yang lokasinya strategis untuk fasilitas publik.
    • Tahap 2: Konsultasi dengan pemilik/PSP terkait kesediaan membeli agunan untuk tujuan sosial.
    • Tahap 3: Koordinasi dengan pemerintah daerah, ormas keagamaan, dan masyarakat setempat.
    • Tahap 4: Pengalihan fungsi lahan dengan legalitas yang jelas.
    • Tahap 5: Pengelolaan bisa dilakukan sendiri atau bekerjasama dengan pihak ketiga profesional.

    6. Penutup

    Pesan ini mengajak para pemimpin BPR-BPRS untuk melihat krisis sebagai pintu berkah. Agunan yang macet bukan lagi sekadar masalah keuangan, melainkan kesempatan untuk menorehkan jejak kebaikan yang abadi. Dalam bahasa sederhana: “Jangan hanya cari untung, cari juga berkah. Karena berkah itulah yang akan mengantarkan bank kita bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.”

      Investasi Pendidikan: Kunci Sustainable Growth BPR-BPRS

      Oleh : H. Dadi Sumarsana, S.Adne., SH, MMKetua Perbarindo DPD Jateng


      Pendahuluan

      Industri Perbankan Perkreditan Rakyat dan Perbankan Perkreditan Rakyat Syariah (BPR-BPRS) menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era digital ini. Persaingan ketat, regulasi yang terus berkembang, dan ekspektasi nasabah yang meningkat menuntut institusi keuangan ini untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apa fondasi yang paling penting untuk mencapai sustainable growth?

      Jawabannya jelas dan tegas: Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten.


      Paradigma yang Harus Diubah

      Salah satu kesalahan fatal yang sering terjadi di dunia BPR-BPRS adalah pola pikir yang “terbalik” terkait investasi pendidikan. Banyak direksi, dewan komisaris, bahkan pemegang saham yang berpikir:

      “Nanti kalau laba sudah besar, baru kita kirim pelatihan.”

      Pemikiran seperti ini sangat kontraproduktif dan pada dasarnya merupakan sebuah paradoks. Bagaimana mungkin BPR-BPRS dapat menghasilkan laba yang signifikan jika SDM-nya tidak memiliki kompetensi yang memadai? Bagaimana karyawan dapat mengelola risiko kredit, melayani nasabah dengan optimal, atau mengadaptasi teknologi terbaru jika mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan yang memadai?


      Mengapa Investasi Pendidikan Harus Didahulukan?

      1. Kompetensi adalah Prasyarat, Bukan Akibat

      Dalam dunia perbankan, kompetensi bukanlah bonus yang didapat setelah sukses, melainkan prasyarat mutlak untuk meraih kesuksesan. Karyawan yang terlatih dengan baik akan:

      • Mampu menganalisis kelayakan kredit dengan lebih akurat, mengurangi risiko kredit macet.
      • Memberikan pelayanan yang lebih profesional dan memuaskan, meningkatkan loyalitas nasabah.
      • Mengelola operasional dengan lebih efisien, mengurangi biaya dan memaksimalkan profitabilitas.
      • Beradaptasi dengan perubahan regulasi dan teknologi dengan lebih cepat.

      2. Sustainable Growth Memerlukan Fondasi yang Kokoh

      Pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth) tidak bisa dicapai dengan cara “instan” atau jalan pintas. Ia memerlukan fondasi yang kokoh, dan fondasi terkuat sebuah organisasi adalah SDM-nya. BPR-BPRS yang mengabaikan pengembangan SDM mungkin bisa meraih laba jangka pendek, tetapi pada akhirnya akan terjebak dalam stagnasi atau bahkan kemunduran ketika tantangan semakin besar.

      3. Daya Saing di Era Digital

      Era digital telah mengubah lanskap perbankan secara drastis. Fintech, digital banking, dan berbagai inovasi teknologi keuangan terus bermunculan. BPR-BPRS yang tidak menginvestasikan pendidikan untuk SDM-nya akan tertinggal jauh dan kehilangan daya saing. SDM yang kompeten adalah satu-satunya aset yang dapat memastikan BPR-BPRS tetap relevan dan kompetitif.


      Seruan kepada Pemangku Kepentingan

      Kepada para Direksi, Dewan Komisaris, dan Pemegang Saham BPR-BPRS, izinkan saya menyampaikan pesan ini dengan tulus:

      Jangan pelit untuk berinvestasi pada pendidikan SDM.

      Investasi pada pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan kompetensi karyawan bukanlah pengeluaran yang sia-sia. Ini adalah investasi strategis yang akan memberikan pengembalian jangka panjang yang jauh melebihi biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, menunda atau mengurangi anggaran pendidikan adalah langkah yang sangat berisiko dan pada akhirnya akan merugikan perusahaan itu sendiri.


      Kesimpulan

      Pendidikan sangat penting. Hanya dengan SDM yang kompeten, BPR-BPRS akan mampu bertahan dan berkembang. Paradigma “laba dulu, pelatihan kemudian” harus segera diubah menjadi “pinter dulu, baru sustainable growth.”

      Mari kita bersama-sama membangun industri BPR-BPRS yang tidak hanya kuat secara finansial, tetapi juga unggul dalam kompetensi SDM. Karena pada akhirnya, keunggulan kompetitif sejati tidak terletak pada modal atau teknologi, melainkan pada manusia-manusia hebat yang ada di dalam organisasi kita.


      #PerbarindoJateng #BPR #BankPerekonomianRakyat #SDMKompeten #SustainableGrowth #InvestasiPendidikan